Minggu, 20 Januari 2013

Voice of My Heart



Ibuku Selimut Hati Terindahku

Ibu ialah wanita mulia sepanjang masa, tak kan pernah habis kata tercurah tuk lukiskan kemuliaannya, jasa dan pengorbanannya sungguh tiada tara, gemetar tangan ini, haru membiru hati ini jika terbayang perjuangannya, sembilan bulan aku dikandungnya, semakin lama semakin lemah tubuh lunglainya menahan sakit oleh gerak tubuh kecilku, namun ibu ialah wanita perkasa, ia bertahan demi aku, tak pernah ada rasa keluh ataupun kesah pada dirinya, ia menanti kelahiranku dengan seulas senyum merekah hingga saatnya tiba ia taruhkan nyawa dengan penuh harap aku akan terlahir ke dunia dan ia bisa mendengar tangisan nakal dari bibir mungilku, bahkan tak hanya sampai disutu, ibu terus berjuang memberikan yang terbaik untukku, ibu takkan biarkan sesuatupun menyakitiku, ibu ajari aku apa yang tak ku tahu hingga aku beranjak dewasa dan akhirnya aku bisa menatap dunia dan melangkah dengan sejumlah rasa serta asa bertabur etika.
  Dalam perjalananku arungi kehidupan yang terkadang penuh dengan aral melintang bahkan tak jarang terasa kejam, sosok ibu lah yang tenangkan aku dalam peluknya hingga aku terlelap dalam pangkuannya, Ibu lah yang membuatku bertahan, Ibu lah yang mebuatku bangun kembali dari kerapuhan. Aku tak peduli ketika teman sepermainan menyebutku gadis manja, atau anak mama, sungguh aku tak peduli karena aku tak bisa jika tak bercerita dengan ibu perihal masalah yang tengah ku alami, apapun itu, tentang sehat dan sakitku, tentang sahabatku, tentang nilai ulanganku bahkan tentang cita dan cintaku. Sungguh hanya ibu yang bisa memahamiku, memahami suara-suara atau gejolak-gejolak yang berkecamuk dalam hatiku, Ibu bagaikan ahli jiwaku, ibu bagaikan perawat atau dokter bagiku dan ibu bagaikan sahabat sejatiku yang setia tanpa jenuh mendengar curahan hatiku tentu dengan jiwa keibuannya yang agung nan lembut, penuh cemas, tanda kasih sayang yang meneduhkan, maka pantaslah jika ridlo dan murkah sang Ilahi ada pada ridlo dan murkah orang tua, dan benarlah juga jika Rosulullah SAW menyabdakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, bahkan Ibu ialah orang yang Beliau sebut tiga kali sebelum ayah sebagai orang yang patut kita hormati dan kasihi.
Petir menyambar, cahaya redup dan bintang-bintang bagaikan berhenti bersinar ketika setetes airmata membasahi pipi ibu, ingin sekali ku hapus, ingin sekali ku maki apapun atau siapapun itu yang sebabkan ibu dirundung pilu, meski aku hanya anak ingusan yang belumlah memahami hakikat kehidupan, itu tak kan jadi penghalang ku tuk lindungi ibu sebagaimana ibu telah lindungi aku, mulai dari gigitan nyamuk hingga kecaman atau luka yang sengaja di toreh oleh orang-orang di sekitarku.
Cambuk melecut lukai hati ku ketika ibu marah karena sakit hati oleh diriku yang mulai berulah, omelan dari bibir ibu terus ternian di telinga menelusuri nadiku, bergetar-getar panas terasa, hingga aku tak sadar dosa besar ku lontarkan, yakni sebuah bentakan kepada wanita luhur nan mulia yang selama ini ku panggil dengan sebutan ibu, sejenak aku menunduk, sungguh ingin ku cabik-cabik bibirku, ingin ku cekik suaraku, bibirku telah durhaka, suara-suaraku pantas terlaknat, akhirnya ku urai deras airmata tanda sejuta sesal menyeruah ke jiwa, ku ingat setiap belaian lembutnya, ku ingat setiap senandung timang-timang yang terlantun agar ku lelap ke alam mimpi, ku ingat tetes demi tetes air susu yang ia beri, ku ingat setiap doa yang terpanjat tanpa lelah ketika malam mulai larut, semua ingatan itu membuat tangisku semakin memekik, terisak-isak tak berujung, dunia bagaikan menatap ku sinis, udara yang biasa ku hirup seperti tak menyapaku lagi, namun itulah mulianya ibu, telaga maafnya tak pernah kering, luas bagai samudera, sapaan lembutnya memanggil namaku untuk kembali bercengkerama dalam kehangatan, ibu dengan mudah melupakan dan mengabaikan luka yang telah ku toreh.
Wanita mulia yang mulai renta masih setia menemani setiap pijakan langkah yang ku tempuh, dalam kesederhanaan keluarga kecilku asa dan harapan ibu tetap tergantung tinggi ke angkasa tanpa ada kata-kata menyerah, ibu selalu  inginkan aku bisa meraih setiap cita yang ku ukir, setiap angan yang hendak ku capai sebab ibu selalu berkata tak ingin hidup dan kehidupanku sepertinya, aku harus bisa lebih baik darinya, ukiran prestasi, kesuksesan dan keberhasilanku adalah cita-cita luhurnya, segala cara dalam batas keridhoan yang Esa ia tempuh, dengan tubuh ringkiknya yang mulai tua, tak jarang ia terbaring sakit namun ia tak lelah bekerja membantu ayah untuk menopang keluarga, dari pagi matahari menyapa hingga tenggelam digantikan sang senja ia berjalan menuju rumah, menatap anak-anaknya sembari tersenyum bertabur rasa syukur atas rizki halal yang ia peroleh bersama peluh dan sejuta letih selama satu hari, ia tak meminta imbalan, ia tak mengeluh, ia sembunyikan letih dalam tidur nyenyaknya, ketika itu aku tahu ibu teramat letih, ingin ku usap peluhnya, ingin ku basuh penatnya dan ku selimuti tubuhnya agar hawa dingin tidak mengusik mimpi indahnya..
Saat ini aku tengah jauh dari ibu, mengembara menuntut ilmu demi cita-citaku dan cita-cita ibu. Jarak yang jauh terkadang membuatku ragu, kuatkah aku tanpa ibu, pertanyaan itu sering menjadi perdebatan panjang dalam hatiku sebab aku tak terbiasa lalui hari tanpa ibu, tanpa dekap kasihnya, tanpa tatapan teduhnya, tanpa canda tawanya ketika ku goda dengan kata-kata nakal. Kini aku bagaikan merpati kecil yang lepas bebas dari sangkar, belajar kepakkan sayap untuk terbang menuju dunia baru, belajar memaknai hidup dan kehidupan, ketika malam merpati kecil itu kedinginan, rindu dekap kasih sayang bahkan airmata seringkali menetes haru saat prahara rindu semakin mencandu, rindu akan ibu namun asa dan cita mendesak tuk dicapai dan mungkin itulah yang membuatku bertahan meski jauh dari ibu.
Cemas sering ku rasa bahkan mengganggu tidur nyenyakku, fikiranku selalu ingat ibu, deras hujan, deru petir dan halilintar menambah kegelisahanku, saat itu di dekat ibu yang ku inginkan, memeluk ibu yang tengah ku imajinasikan, ingin ku berlari mengetuk pintu rumahku dan melihat ibu tersenyum, namun sekali lagi mulianya seorang ibu, kecemasan yang ku rasa ternyata tak sebanding dengan yang ibu rasa, bertanya akan kabarku seolah tiap detik ku dengar, bahkan ibu tak bisa menikmati hidangan senikmat apapun disana jika aku tak juga menikmatinya disini, menyentuh boneka yang tertata dikamarku, memandang potret wajahku, melihat gadis seusiaku ibu selalu menangis rindu, mendengar hal itu hatiku bergetar tak karuan, kerinduanku semakin memuncak, cinta dan kasihku semakin bergejolak, dan disisi lain hal itu memacu semangat belajarku, agar membuat ibu bangga dan bahagia.
Ada Ilusi terburuk dalam hidupku yakni kehilangan ibu, aku bahkan tak sanggup membayangkan dan tak pernah mau membayangkan, karena ketika itu terjadi aku tak tau apakah aku masih punya kekuatan yang selama ini menjadi tiang penyanggaku, apakah aku masih ingin melalui alur kehidupan ini, karena pastilah waktu saat itu seolah berhenti, jantungku mungkin tak berdetak, sistem syarafku tak bekerja, mungkin ketika itu aku memilih menjadi patung yang tak punya hati untuk merasa, pernah aku berfikir jika memang dunia ini sudah digariskan ada yang meninggalkan dan yang ditinggalkan, biarlah aku yang dahulu pergi agar aku tak pernah merasakan kehilangan ibu, namun sisi hatiku yang lain menamparku, ingatkan aku pada yang Maha Khalik Allah SWT. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya, ibu akan selalu hidup dalam jiwaku, ibu akan selalu ada dan bersemi menghuni tempat terindah dalam hatiku, menjadi selimut hati terindahku, seperti tembang yang di lantunkan Melly G. “ oooh... bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku....” aku akan terus berkarya untuk ibu, ayah dan orang-orang terkasihku, aku akan terus berjuang gapai asaku, aku tak kan hancur dan membuat ibu kecewa, bibirku tak kan pernah berhenti memanjat doa agar ibu mendapatkan tempat terindah.
Saat ini Ibu masih ada untukku, tak kan ku sia-siakan waktuku tuk mebahagiakannya, semakin hari, tatkala waktu terus bergulir, musim bertukar dan  zaman pun beralih seiring bertambahnya usiaku rasa cintaku pada ibu semakin bertambah, hasrat untuk terus taat dan patuh semakin teguh, senyuman ibu, harapan ibu setiap detik seakan menjadi inspirasi segar dan embun penyejuk, serta motivasi terhebatku, jauh dari ibu seolah makin menyadarkanku akan makna ibu, seolah makin memperlihatkanku akan perjuangan ibu, seolah makin membuka mata hatiku akan kebesaran cinta dan kasih sayang ibu, kehadiran ibu membuatku lebih menghargai hidup, kehadiran ibu mebuatku lebih mensyukuri setiap oksigen yang ku hirup, kehadiran ibu membuat senyumanku tak pernah kendas sepahit apapun derita yang tengah ku rasa, kehadiran ibu membuatku bangga menjadi seorang wanita dan kehadiran ibu juga yang membuatku terus bangkit tatkala kegagalan demi kegagalan hampir menghentikan langkahku.
Memiliki ibu dan bisa barsama ibu hingga detik ini sudah membuatku merasa menjadi orang yang paling beruntung tiada tandingan di dunia, karena ibu teramat berharga, nilai ibu sungguh taida terhingga, aku merasa Allah teramat menyayangiku dengan masih memberiku kesempatan bersama ibu, rumah kecilku bagai istana dengan kehadiran permaisuri cantik yaitu ibu, mutiara terindahku ialah ibu, harta dan hiasan termewahku ialah ibu, bingkisan yang selalu ku impikan ialah senyuman ibu, mimpi terburukku ialah duka dan tangisan ibu. “Allahummaghfirli wa li waalidayya warhamhumaa kama Robbayaanii shoghiira” kalimat yang senantiasa ku ucap sebagai doaku untuknya, kalimat yang ku senandungkan ketika aku tengah berhadapan dengan Allah, kalimat yang sekaligus sekelumit balasan untuk setiap cinta kasihnya, kalimat yang selalu dan tiada pernah berhenti ku lafalkan hingga nadi ini berhenti, kalimat yang mengandung harapan agar ibu selalu berada pada naungan dan ampunan sang Ilahi, agar ibu senantiasa mendapat rahmat dari Sang Rahman dan Rahim dan agar ibu mendapatkan tempat terindah diatas mimbar yang terbuat dari cahaya-Nya, sungguh pantas, sebuah tempat terindah untuk wanita terindah.


With Love
Holy Ichda Wahyuni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar