Ibuku Selimut Hati
Terindahku
Ibu ialah wanita mulia sepanjang masa,
tak kan pernah habis kata tercurah tuk lukiskan kemuliaannya, jasa dan
pengorbanannya sungguh tiada tara, gemetar tangan ini, haru membiru hati ini
jika terbayang perjuangannya, sembilan bulan aku dikandungnya, semakin lama
semakin lemah tubuh lunglainya menahan sakit oleh gerak tubuh kecilku, namun
ibu ialah wanita perkasa, ia bertahan demi aku, tak pernah ada rasa keluh
ataupun kesah pada dirinya, ia menanti kelahiranku dengan seulas senyum merekah
hingga saatnya tiba ia taruhkan nyawa dengan penuh harap aku akan terlahir ke
dunia dan ia bisa mendengar tangisan nakal dari bibir mungilku, bahkan tak
hanya sampai disutu, ibu terus berjuang memberikan yang terbaik untukku, ibu
takkan biarkan sesuatupun menyakitiku, ibu ajari aku apa yang tak ku tahu
hingga aku beranjak dewasa dan akhirnya aku bisa menatap dunia dan melangkah
dengan sejumlah rasa serta asa bertabur etika.
Dalam perjalananku arungi kehidupan yang terkadang penuh dengan aral
melintang bahkan tak jarang terasa kejam, sosok ibu lah yang tenangkan aku
dalam peluknya hingga aku terlelap dalam pangkuannya, Ibu lah yang membuatku
bertahan, Ibu lah yang mebuatku bangun kembali dari kerapuhan. Aku tak peduli ketika
teman sepermainan menyebutku gadis manja, atau anak mama, sungguh aku tak
peduli karena aku tak bisa jika tak bercerita dengan ibu perihal masalah yang
tengah ku alami, apapun itu, tentang sehat dan sakitku, tentang sahabatku,
tentang nilai ulanganku bahkan tentang cita dan cintaku. Sungguh hanya ibu yang
bisa memahamiku, memahami suara-suara atau gejolak-gejolak yang berkecamuk
dalam hatiku, Ibu bagaikan ahli jiwaku, ibu bagaikan perawat atau dokter bagiku
dan ibu bagaikan sahabat sejatiku yang setia tanpa jenuh mendengar curahan
hatiku tentu dengan jiwa keibuannya yang agung nan lembut, penuh cemas, tanda
kasih sayang yang meneduhkan, maka pantaslah jika ridlo dan murkah sang Ilahi
ada pada ridlo dan murkah orang tua, dan benarlah juga jika Rosulullah SAW
menyabdakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, bahkan Ibu ialah orang
yang Beliau sebut tiga kali sebelum ayah sebagai orang yang patut kita hormati
dan kasihi.
Petir menyambar, cahaya redup dan
bintang-bintang bagaikan berhenti bersinar ketika setetes airmata membasahi
pipi ibu, ingin sekali ku hapus, ingin sekali ku maki apapun atau siapapun itu
yang sebabkan ibu dirundung pilu, meski aku hanya anak ingusan yang belumlah
memahami hakikat kehidupan, itu tak kan jadi penghalang ku tuk lindungi ibu
sebagaimana ibu telah lindungi aku, mulai dari gigitan nyamuk hingga kecaman
atau luka yang sengaja di toreh oleh orang-orang di sekitarku.
Cambuk melecut lukai hati ku ketika ibu
marah karena sakit hati oleh diriku yang mulai berulah, omelan dari bibir ibu
terus ternian di telinga menelusuri nadiku, bergetar-getar panas terasa, hingga
aku tak sadar dosa besar ku lontarkan, yakni sebuah bentakan kepada wanita
luhur nan mulia yang selama ini ku panggil dengan sebutan ibu, sejenak aku
menunduk, sungguh ingin ku cabik-cabik bibirku, ingin ku cekik suaraku, bibirku
telah durhaka, suara-suaraku pantas terlaknat, akhirnya ku urai deras airmata
tanda sejuta sesal menyeruah ke jiwa, ku ingat setiap belaian lembutnya, ku
ingat setiap senandung timang-timang yang terlantun agar ku lelap ke alam
mimpi, ku ingat tetes demi tetes air susu yang ia beri, ku ingat setiap doa
yang terpanjat tanpa lelah ketika malam mulai larut, semua ingatan itu membuat
tangisku semakin memekik, terisak-isak tak berujung, dunia bagaikan menatap ku
sinis, udara yang biasa ku hirup seperti tak menyapaku lagi, namun itulah
mulianya ibu, telaga maafnya tak pernah kering, luas bagai samudera, sapaan
lembutnya memanggil namaku untuk kembali bercengkerama dalam kehangatan, ibu
dengan mudah melupakan dan mengabaikan luka yang telah ku toreh.
Wanita mulia yang mulai renta masih
setia menemani setiap pijakan langkah yang ku tempuh, dalam kesederhanaan
keluarga kecilku asa dan harapan ibu tetap tergantung tinggi ke angkasa tanpa
ada kata-kata menyerah, ibu selalu inginkan aku bisa meraih setiap cita yang ku
ukir, setiap angan yang hendak ku capai sebab ibu selalu berkata tak ingin hidup
dan kehidupanku sepertinya, aku harus bisa lebih baik darinya, ukiran prestasi,
kesuksesan dan keberhasilanku adalah cita-cita luhurnya, segala cara dalam
batas keridhoan yang Esa ia tempuh, dengan tubuh ringkiknya yang mulai tua, tak
jarang ia terbaring sakit namun ia tak lelah bekerja membantu ayah untuk menopang
keluarga, dari pagi matahari menyapa hingga tenggelam digantikan sang senja ia
berjalan menuju rumah, menatap anak-anaknya sembari tersenyum bertabur rasa
syukur atas rizki halal yang ia peroleh bersama peluh dan sejuta letih selama
satu hari, ia tak meminta imbalan, ia tak mengeluh, ia sembunyikan letih dalam
tidur nyenyaknya, ketika itu aku tahu ibu teramat letih, ingin ku usap
peluhnya, ingin ku basuh penatnya dan ku selimuti tubuhnya agar hawa dingin
tidak mengusik mimpi indahnya..
Saat ini aku tengah jauh dari ibu,
mengembara menuntut ilmu demi cita-citaku dan cita-cita ibu. Jarak yang jauh
terkadang membuatku ragu, kuatkah aku tanpa ibu, pertanyaan itu sering menjadi
perdebatan panjang dalam hatiku sebab aku tak terbiasa lalui hari tanpa ibu,
tanpa dekap kasihnya, tanpa tatapan teduhnya, tanpa canda tawanya ketika ku
goda dengan kata-kata nakal. Kini aku bagaikan merpati kecil yang lepas bebas
dari sangkar, belajar kepakkan sayap untuk terbang menuju dunia baru, belajar
memaknai hidup dan kehidupan, ketika malam merpati kecil itu kedinginan, rindu
dekap kasih sayang bahkan airmata seringkali menetes haru saat prahara rindu
semakin mencandu, rindu akan ibu namun asa dan cita mendesak tuk dicapai dan
mungkin itulah yang membuatku bertahan meski jauh dari ibu.
Cemas sering ku rasa bahkan mengganggu
tidur nyenyakku, fikiranku selalu ingat ibu, deras hujan, deru petir dan
halilintar menambah kegelisahanku, saat itu di dekat ibu yang ku inginkan,
memeluk ibu yang tengah ku imajinasikan, ingin ku berlari mengetuk pintu
rumahku dan melihat ibu tersenyum, namun sekali lagi mulianya seorang ibu,
kecemasan yang ku rasa ternyata tak sebanding dengan yang ibu rasa, bertanya
akan kabarku seolah tiap detik ku dengar, bahkan ibu tak bisa menikmati
hidangan senikmat apapun disana jika aku tak juga menikmatinya disini, menyentuh
boneka yang tertata dikamarku, memandang potret wajahku, melihat gadis seusiaku
ibu selalu menangis rindu, mendengar hal itu hatiku bergetar tak karuan,
kerinduanku semakin memuncak, cinta dan kasihku semakin bergejolak, dan disisi
lain hal itu memacu semangat belajarku, agar membuat ibu bangga dan bahagia.
Ada Ilusi terburuk dalam hidupku yakni kehilangan
ibu, aku bahkan tak sanggup membayangkan dan tak pernah mau membayangkan,
karena ketika itu terjadi aku tak tau apakah aku masih punya kekuatan yang
selama ini menjadi tiang penyanggaku, apakah aku masih ingin melalui alur
kehidupan ini, karena pastilah waktu saat itu seolah berhenti, jantungku
mungkin tak berdetak, sistem syarafku tak bekerja, mungkin ketika itu aku memilih
menjadi patung yang tak punya hati untuk merasa, pernah aku berfikir jika
memang dunia ini sudah digariskan ada yang meninggalkan dan yang ditinggalkan,
biarlah aku yang dahulu pergi agar aku tak pernah merasakan kehilangan ibu,
namun sisi hatiku yang lain menamparku, ingatkan aku pada yang Maha Khalik
Allah SWT. Semua adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya, ibu akan selalu
hidup dalam jiwaku, ibu akan selalu ada dan bersemi menghuni tempat terindah
dalam hatiku, menjadi selimut hati terindahku, seperti tembang yang di
lantunkan Melly G. “ oooh... bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam
hatiku....” aku akan terus berkarya untuk ibu, ayah dan orang-orang terkasihku,
aku akan terus berjuang gapai asaku, aku tak kan hancur dan membuat ibu kecewa,
bibirku tak kan pernah berhenti memanjat doa agar ibu mendapatkan tempat
terindah.
Saat ini Ibu masih ada untukku, tak kan
ku sia-siakan waktuku tuk mebahagiakannya, semakin hari, tatkala waktu terus
bergulir, musim bertukar dan zaman pun
beralih seiring bertambahnya usiaku rasa cintaku pada ibu semakin bertambah,
hasrat untuk terus taat dan patuh semakin teguh, senyuman ibu, harapan ibu
setiap detik seakan menjadi inspirasi segar dan embun penyejuk, serta motivasi
terhebatku, jauh dari ibu seolah makin menyadarkanku akan makna ibu, seolah
makin memperlihatkanku akan perjuangan ibu, seolah makin membuka mata hatiku
akan kebesaran cinta dan kasih sayang ibu, kehadiran ibu membuatku lebih
menghargai hidup, kehadiran ibu mebuatku lebih mensyukuri setiap oksigen yang
ku hirup, kehadiran ibu membuat senyumanku tak pernah kendas sepahit apapun
derita yang tengah ku rasa, kehadiran ibu membuatku bangga menjadi seorang
wanita dan kehadiran ibu juga yang membuatku terus bangkit tatkala kegagalan
demi kegagalan hampir menghentikan langkahku.
Memiliki ibu dan bisa barsama ibu hingga
detik ini sudah membuatku merasa menjadi orang yang paling beruntung tiada
tandingan di dunia, karena ibu teramat berharga, nilai ibu sungguh taida
terhingga, aku merasa Allah teramat menyayangiku dengan masih memberiku
kesempatan bersama ibu, rumah kecilku bagai istana dengan kehadiran permaisuri
cantik yaitu ibu, mutiara terindahku ialah ibu, harta dan hiasan termewahku
ialah ibu, bingkisan yang selalu ku impikan ialah senyuman ibu, mimpi terburukku
ialah duka dan tangisan ibu. “Allahummaghfirli
wa li waalidayya warhamhumaa kama Robbayaanii shoghiira” kalimat yang
senantiasa ku ucap sebagai doaku untuknya, kalimat yang ku senandungkan ketika
aku tengah berhadapan dengan Allah, kalimat yang sekaligus sekelumit balasan
untuk setiap cinta kasihnya, kalimat yang selalu dan tiada pernah berhenti ku
lafalkan hingga nadi ini berhenti, kalimat yang mengandung harapan agar ibu
selalu berada pada naungan dan ampunan sang Ilahi, agar ibu senantiasa mendapat
rahmat dari Sang Rahman dan Rahim dan agar ibu mendapatkan tempat terindah
diatas mimbar yang terbuat dari cahaya-Nya, sungguh pantas, sebuah tempat
terindah untuk wanita terindah.
With Love
Holy Ichda Wahyuni