Rabu, 06 Mei 2015

KAJIAN FILSAFAT



EPISTEMOLOGI KIRI
FRIEDRICH NIETZSCHE : PENDOBRAK KEMAPANAN KEBENARAN

            Ibarat serpihan puzzle yang terpisah dari kelengkapan bagiannya, demikianlah jika epistemologi Nietzsche diperikan tanpa mengetahui pemikirannya yang menurut sebagian ahli filsafat sangat istimewa. Sebenarnya sesosok Nietzsche tidak tenar dengan epistemologinya, melainkan tenar dengan pemikirannya di bidang filsafat moral dan etika. Yang menjadi pertanyaan mendasar alasan Nietzsche dikategorikan ke dalam filsuf yang memiliki epistemology kiri tidak lain adalah karena keberaniannya keluar dari mainstream atau pakem pemikiran-pemikiran para filsuf besar yang berdiri kokoh. Epistemology kiri Nietzsche juga terletak pada sikap skeptisme radikal terhadap kemapanan akal, yang mana akal selalu menjadi seonggok sumber kebenaran yang diagungkan oleh para filsuf besar seperti Descartes yang popular dengan rasionalismenya, Immanuel Kant dengan pemikirannya yang mencampurkan rasionalisme dan empirisme, serta Hegel yang terkenal dengan idealismenya.

            Epistemologi seperti yang dikenal membawa misi berupa kebenaran, pengetahuan dankepastian. Tapi begitulah istimewanya Nietzsche, pemikirannya justru mendobrak itu semua. Di awali dari pengetahuan, jika pengetahuan merupakan jalan memperoleh kebenaran pada epistemeologi tradisional maka bagi Nietzsche hal itu sangat naïf, pengetahuan adalah kehendak untuk berkuasa. Maka tidak heran jika vitalisme Nietzsche bukan tertuju pada daya hidup melainkan semangat hidup, menjadi manusia unggul yang dalam pemikirannya terkenal dengan istilah Uberman. Untuk mencapai itu tentu satu-satunya cara menurut Nietzsche adalah dengan membebaskan diri dari belenggu-belenggu kebenaran. Bagi Nietzsche kebenaran hanyalah persoalan keyakinan dan akal bukan lah sumber utama untuk memperolehnya melainkan keyakinan, dan dominasi tubuh yang tak terdikotomikan dengan jiwa dan ruh. Lantas apa itu kebenaran? Jika kebenaran itu diyakini maka mana keyakinan yang benar-benar benar? Membingungkan bukan? Tapi Nietzsche menjawabnya dengan kata “menyenangkan” dengan aforisme
Bukan persoalan seberapa kuat kebenaran diyakini. Kekuatan keyakinan bukan pada criteria kebenaran. Tetapi apa itu kebenaran mungkin sebentuk keyakinan yang telah menjadi kondisi hidup? Dalam kasus tersebut, untuk meyakinkan, kekuatan bisa menjadi criteria, seperti halnya kausalitas (Nietzsche)