EPISTEMOLOGI KIRI
FRIEDRICH NIETZSCHE : PENDOBRAK
KEMAPANAN KEBENARAN
Ibarat serpihan puzzle yang terpisah
dari kelengkapan bagiannya, demikianlah jika epistemologi Nietzsche diperikan
tanpa mengetahui pemikirannya yang menurut sebagian ahli filsafat sangat
istimewa. Sebenarnya sesosok Nietzsche tidak tenar dengan epistemologinya,
melainkan tenar dengan pemikirannya di bidang filsafat moral dan etika. Yang
menjadi pertanyaan mendasar alasan Nietzsche dikategorikan ke dalam filsuf yang
memiliki epistemology kiri tidak lain adalah karena keberaniannya keluar dari
mainstream atau pakem pemikiran-pemikiran para filsuf besar yang berdiri kokoh.
Epistemology kiri Nietzsche juga terletak pada sikap skeptisme radikal terhadap
kemapanan akal, yang mana akal selalu menjadi seonggok sumber kebenaran yang
diagungkan oleh para filsuf besar seperti Descartes yang popular dengan
rasionalismenya, Immanuel Kant dengan pemikirannya yang mencampurkan
rasionalisme dan empirisme, serta Hegel yang terkenal dengan idealismenya.
Epistemologi seperti yang dikenal
membawa misi berupa kebenaran, pengetahuan dankepastian. Tapi begitulah
istimewanya Nietzsche, pemikirannya justru mendobrak itu semua. Di awali dari
pengetahuan, jika pengetahuan merupakan jalan memperoleh kebenaran pada
epistemeologi tradisional maka bagi Nietzsche hal itu sangat naïf, pengetahuan
adalah kehendak untuk berkuasa. Maka tidak heran jika vitalisme Nietzsche bukan
tertuju pada daya hidup melainkan semangat hidup, menjadi manusia unggul yang
dalam pemikirannya terkenal dengan istilah Uberman. Untuk mencapai itu tentu
satu-satunya cara menurut Nietzsche adalah dengan membebaskan diri dari
belenggu-belenggu kebenaran. Bagi Nietzsche kebenaran hanyalah persoalan
keyakinan dan akal bukan lah sumber utama untuk memperolehnya melainkan
keyakinan, dan dominasi tubuh yang tak terdikotomikan dengan jiwa dan ruh.
Lantas apa itu kebenaran? Jika kebenaran itu diyakini maka mana keyakinan yang
benar-benar benar? Membingungkan bukan? Tapi Nietzsche menjawabnya dengan kata “menyenangkan”
dengan aforisme
Bukan persoalan
seberapa kuat kebenaran diyakini. Kekuatan keyakinan bukan pada criteria
kebenaran. Tetapi apa itu kebenaran mungkin sebentuk keyakinan yang telah
menjadi kondisi hidup? Dalam kasus tersebut, untuk meyakinkan, kekuatan bisa
menjadi criteria, seperti halnya kausalitas (Nietzsche)